Jejak Berdirinya Desa Adat Piling
Desa Adat Piling merupakan Desa Adat yang terletak di Desa Mengesta, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, di kaki Gunung Batukaru. Desa Adat Piling merupakan salah satu desa tua yang merupakan perpindahan dari wilayah Sarin Buana, Wanagiri, Kecamatan Bajra. Hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan artefak kuno berupa sarkopagus (peti mati dari batu), lingga yoni, pura-pura “Nyatur” (menghadap barat, utara, timur, dan selatan), dan pura-pura berupa punden/susunan batu tujuh tingkat (bebaturan). Tidak diketahui pasti tahun perpindahan tersebut, hanya berdasarkan cerita turun-temurun dan sesuai dengan prasasti yang ada di Merajan Bandesa Manik di Piling serta bukti berupa “Madik Panjang Berjanggar” yang ada di Pura Siwa Taman Sari Piling. Di dalam prasasti tertulis bahwa krama adat sekarang merupakan generasi ke-6 dari leluhur yang dahulu pertama kali membabat hutan di wilayah Piling sekarang — jika dihitung sekitar 450 tahun yang lalu atau di akhir abad ke-15.
Perpindahan dari Sarin Buana ke wilayah sekarang disebabkan karena mendapat tugas dari Puri Tabanan serta Jro Subamia untuk ngempon Pura Pucak Kedaton (stana Mahadewa di puncak Gunung Batukaru) beserta Catur Loka Pala-nya: Pura Manik Selaka, Pura Ninggar Sari, Pura Dalem Sading (Usada), serta Pura Jro Tengah (Pura Natar Luhur Pucak Kedaton). Karena kelima pura tersebut sangat jauh dan sulit dicapai dari Sarin Buana, leluhur Desa Piling memutuskan mencari tempat yang lebih dekat, menuju arah timur, dan tiba di wilayah ini. Akhirnya mereka membabat hutan — salah satu alat yang masih tersimpan saat ini berupa “Madik Panjang Berjanggar” (disimpan di Pura Siwa Taman Sari). Wilayah tersebut dinamai Tagel Sepit karena wilayahnya kecil memanjang seperti “sepit”, memanjang dari sebelah utara Desa Adat Asah sekarang sampai ke utara wilayah Kesambi hingga Mundukan Kelesih (lokasi Pura Dalem Sading/Usada dan Pura Ninggar Sari).
Dalam perjalanan waktu, penduduk yang tinggal di Tagel Sepit diganggu oleh semut; rumah dan makanan selalu penuh semut, bahkan saat tidur pun terganggu. Sementara “pondokan” (kurang lebih 15 KK) yang tinggal di wilayah Kesambi diintimidasi dan diganggu oleh penduduk dari Jatiluwih dan Gunung Sari yang mendapat dukungan dari penjajah Belanda. Hal ini menyebabkan mereka meninggalkan wilayah tersebut, membabat bagian hutan di selatan Desa Tagel Sepit yang penuh dengan pohon piling, dan membangun perkampungan baru yang kemudian disebut Desa Piling sampai sekarang. Wilayah Kesambi ditinggalkan dan akhirnya dikuasai NIKA (tentara Belanda) beserta salah satu pura, yaitu Dalem Usada/Sading. Sedangkan Pura Ulun Suwi Jada masih berlokasi di Kesambi dan di-empon oleh Piling.
Asal-usul leluhur di Sarin Buana
Leluhur krama Piling bermukim di wilayah Sarin Buana, Wanagiri, Kecamatan Bajra.
Perpindahan menuju wilayah Piling
Krama berpindah ke arah timur untuk mendekati pura-pura yang menjadi tanggung jawab mereka.
Resmi dikenal dengan nama Desa Piling
Perkampungan baru di selatan Tagel Sepit dikenal dengan nama Desa Piling.
Komunitas Kristen Protestan terbentuk
Komunitas Kristen Protestan mulai terbentuk di wilayah Piling Kanginan.
Kehadiran umat Katolik
Umat Katolik mulai hadir di wilayah Abianbase.